Save The City: Epilogue? Part VII

Jonghee tidak bisa menggunakan kemampuan manipulasi apinya, karena Logan sudah menyerapnya, menjadikan kemampuan itu menjadi miliknya untuk sementara. Kalau Jonghee tidak salah hitung, tinggal lima belas menit lagi hingga kemampuannya itu bisa kembali. Jadinya, Jonghee hanya bisa menggunakan manipulasi angin. Menjerat Logan dalam beragam jaring angin, tali angin, yang paling kuat sekalipun. Namun tetap belum mampu membuat seorang Logan Herondale kelelahan. Malah, setiap detiknya, tenaga Jonghee terkuras secara perlahan.

'Ya ampun, nggak ada cara lain apa?'

Save The City: Epilogue? Part VI

Tidak sulit menemukan pak Orion. Pun tidak ada kelelawar yang menghadang. Sepertinya tempat yang mereka incar memang akademi. Jonghee jadi keingatan kata-kata Pak Euijin. Bahwa akademi, satu-satunya pertahanan terakhir Edentria.

"Pak Ori!!" teriak Jonghee masih di atas punggung si grifiin Will.

Yang dipanggil mengalihkan perhatian. Matanya menyipit memastikan penglihatan.

"Oy! Jong!" katanya sambil melambai-lambai tangan.

Save The City: Epilogue? Part V

Yang dimaksud dengan Kim's Army adalah monster-monster, peri juga peliharaan yang berhasil Jonghee kumpulkan selama di Akademi. Dia lebih suka memanggilnya Kim's Army ketimbang peliharaan. Biar lebih eksklusif.

"Foo!" Jonghee menemukan perinya di depan asrama Sunrise, sedang mengatur barisan hewan peliharaan siswi Sunrise. Membawa mereka ke tempat yang lebih aman. Gilgamesh--si bocah emas setinggi lutut Jonghee berjaga kalau-kalau ada kelelawar yang menyerang mereka. Bersama siswi Sunrise level satu dan dua. Sepertinya level tiga sampai lima sudah terjun ke medan tempur.

Save The City: Epilogue? Part IV

Bilah dari sebuah tombak sudah akan membelah punggung Jonghee seandainya Logan Herondale tidak memperingatkan gadis tersebut. Refleks saja sebuah barrier angin Jonghee ciptakan. Menahan mata tombak di udara.

Sosok penyerangnya menyeramkan. Sebuah bayang-bayang hitam dengan lubang mata juga mulut semerah darah. Jonghee sampai tercengang dibuatnya. Sepersekian detik, gadis itu hanya termangu.

Save The City: Epilogue? Part III

Pemagang sekuriti berada di barisan paling depan. Anak-anak yang sepertinya level satu, membantu di belakang. Memadamkan api, mengevakuasi siswa-siswa level nol. Ada juga bu Yukio, berdiri tepat di belakang pasukan Kepala Akademi Runako, menerbangkan batu-batu berukuran kecil dengan telekinesisnya.

Jonghee yang masih mencerna kekacauan yang terjadi, dikejutkan dengan kendaraan yang berhenti mendadak. Tidak mulus pula. Membuatnya terantuk ke depan.

"Aduh, pak!"

"Nggak usah ngeluh, ayo turun, Jong!"

Save The City: Epilogue? Part II

Serangan pertama terjadi di depan mata Jonghee. Ledakan mirip nuklir menyilaukan mata Jonghee yang sedang membereskan display Flower Shop. Kalau dia tidak salah memperhitungkan, asalnya dari arah Akademi.

"BAPAK! AKADEMI DISERANG!" kalap, Jonghee sampai teriak sambil menjeblak pintu masuk FloShop. Beruntung kacanya nggak sampai pecah.

Save The City: Epilogue?

Katanya, menjelang kematian seseorang akan melihat kilas balik semasa hidupnya.

Hak itulah yang dialami Jonghee saat ini.

Dimana saat-saat terbaik juga terburuk dalam hidupnya, terhampar di hadapannya.

'Sudah berakhir ... yah?' tanyanya kemudian mulai memejamkan mata.

"Kim Jonghee!"

Seseorang baru saja menyerukan namanya. Jonghee tidak yakin siapa. Kelopak matanya terasa berat untuk bergerak. Memastikan serta mengingat orang terakhir yang menyerukan namanya. Tapi rasa kantuk, mulai merenggut kesadarannya.

"Kim. Jong. Hee!"

'Aku mengantuk.'

Asperger, OCD, dan Arsitektur

Judul : Garis Lurus Penulis : Arnozaha Win Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit : 2019 Halaman : 296 halaman Blurb: Tidak banya...